Selasa, 23 Februari 2016

Islam the Peacefull Relegion



Islam the Peacefull Relegion
(An Essays to Answer the Accusation of Violance)
          Conceptually, The main doctrine in Islam is stressing For peace tought. Islam it'self  mean peaceful, secure, safe and surrender to the god as indicated in every last mentioned of ritual prayer. It mean that the Moslem have an obligation to uphold the safety and peacefully to whole of human being. It also a symbol that the last estuary of Islamic teaching is peace. But in the Islamic history, the concept is not running as well as the reality. The trace of Islamic history pointed  to the contrary.

BERTRAND RUSSELL: Understanding History



A.   PENDAHULUAN


          Bertrand Russell adalah seorang tokoh yang sangat produktip dalam menulis buku. Ia membahas tentang berbagai-macam permasalahan, mulai dari filsafat, pendidikan, masalah moral, agama, sejarah dan politik bahkan ia juga ahli dalam bidang matematika dan sains.
          Buku Understanding History yang akan dikaji penulis, memiliki tesk aslinya  sampai dengan halaman 122, akan tetapi banyak uraian-uraian materi lain didalamnya  dan secara kebetulan salah satu judul tersebut berkaitan dengan materi Penulis, Understanding History yang diambil dari  salah satu essey  yang ada, yaitu: Cara Membaca dan Memahami Sejarah. Yang terdiri dari 58 halaman.
          Sebenarnya essey: Cara Membaca dan Memahami Sejarah yang aslinya ini, ditulis pada tahun 1943. Kemudian dicopi  dan dicetak ulang kembali  oleh Philosophical Library.
          Buku ini merupakan kumpulan dari beberapa essay  karya Betrand Russell, dari judul inilah  salah satu judul pendekatan  yang dilakukan Pemakalah dalam penulisan makalah, yaitu: How to Read and Understand History (Cara Membaca dan Memahami Sejarah). Sehingga tidak semua essey yang terdapat dalam judul diatas akan disampaikan oleh Penulis.

PEMBAGIAN HADIS DARI SUDUT KWANTITAS PERIWAYATNYA (JUMLAH PERAWINYA)



A.  PENDAHULUAN

          Sebagai sumber ajaran Islam kedua setelah Alquran, keberadaan Hadis di samping telah mewarnai masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan, juga telah menjadi bahan kajian yang menarik dan tiada henti-hentinya. Kajian terhadap Hadis baik dari segi keotentikkannya, kandungan makna dan ajaran yang terdapat di dalamnya, macam-macam tingkatannya, maupun fungsinya dalam menjelaskan kandungan Alquran dan lain sebagainya telah banyak dilakukan para ahli di bidangnya.
         P enulisan Hadis ketika Rasul masih hidup mempunyai dua pendapat berupa larangan dan perintah penulisan. Namun tidaklah  menjadi masalah pokok, hal penting terjadi ketika beliau telah wafat. Selain itu ketika Rasul masih hidup, jika ada permasalahan yang kurang dipahamai para sahabat, maka mereka bisa menanyakan langsung kepada Rasul. Sehingga selagi Rasul hidup penulisan Hadis dikalangan sahabat ada yang terus berjalan, namun sahabat lebih mengutamakan hapalan mereka.
           Menurut Ajjaj al-Khathib meskipun Rasul ada melarang sahabat untuk mencatat Hadis namun larangan tersebut bukanlah tidak menulis seluruh Hadis beliau sama sekali. Karena larangan yang dimaksud adalah larangan menulis Hadis di marjin-marjin lembaran Alquran, karena dikhawatirkan tercampur dengan penulisan ayat-ayat Alquran. Karena ketika itu Alquran juga masih dalam tahap penulisan. Hal Ini disampaikan Rasul agar penulisan Alquran benar-benar murni merupakan wahyu  dari Allah tidak tercampur dengan hal-hal lain.

PENJAJAHAN BANGSA-BANGSA BARAT ATAS DUNIA ISLAM (LATAR BELAKANG DAN AKIBATNYA)



A.    PENDAHULUAN

          Pada tanggal 26 Nopember 1095 Paus Urban menyampaikan pidatonya di Clermont, bagian tenggara Prancis, dan memerintahkan orang-orang Kristen agar “memasuki lingkaran Makam Suci, merebutnya dari orang-orang Islam dan menyerahkannya kembali kepada mereka”. Mungkin inilah pidato paling berpengaruh yang telah disampaikan oleh Paus sepanjang catatan sejarah.[1]
         Inilah awal penjajahan Barat  terhadap dunia Islam.[2] Suatu  serangan yang kemudian dikenal dengan sebutan Perang Salib, yang mempunyai tujuan merebut kota suci Palestina. Di saat ini dunia Islam sedang mengalami kemerosotan internal yang hebat akibat perbedaan pendapat antara kaum Syi’ah, kaum Sunni dan kaum Khawarij, antara mazhab Safii, antara ras-ras Persia, Arab dan Turki. Sehingga memberikan peluang bagi Barat untuk menghancurkan kaum Muslimin. Apalagi kemunduran Andalusia, Sicilia dan puncaknya jatuhnya Bagdad ke tangan bangsa Mongol.
          Disisi lain, terjadi dengan kemunduran tiga kerajan Islam di periode pertengahan Sejarah Islam, Eropa Barat (biasa disebut dengan “Barat” saja), sedang mengalami kemajuan dengan pesat. Hal ini berbanding terbalik dengan masa klasik sejarah Islam. Ketika itu peradaban Islam dapat dikatakan paling maju, memancarkan sinarnya ke seluruh dunia, sementara Eropa sedang berada dalam kebodohan dan keterbelakangan.[3]

Minggu, 16 Agustus 2015

DINASTI THAHIRIYAH



 A. Pendahuluan
            Menurut para pakar sejarah Islam, Daulat Abbasiyah (750-1258 M) telah berjasa dalam memajukan umat Islam. Hal ini ditandai dengan kemajuan di bidang Ilmu pengetahuan, peradaban, kesenian, dan filsafat. Data monumental dari kebesaran Daulat Abbasiyah, yaitu berdirinya kota Baghdad yang megah, kota yang didirikan atas prakarsa raja-raja dinasti ini. Menurut Philip K.Hitti, kota Baghdad adalah kota terindah yang dialiri sungai dan benteng-benteng yang kuat serta pertahanan militer yang cukup kuat[1]. Sekalipun demikian, dinasti ini tidak mampu mempertahankan integritas negerinya, karena setelah Khalifah Harun Ar-Rasyid, daerah kekuasaan dinasti ini mulai goyah baik daerah yang ada di bagian Barat naupun yang ada di bagian Timur Baghdad. Di bagian Timur, menurut J.J Saunder berdiri dinasti-dinasti kecil yaitu Thahiriyah, Saffariah, dan Samaniyah[2].

PERKEMBANGAN CORAK-CORAK PENULISAN SEJARAH ISLAM KLASIK (Perkembangan Corak Penulisan Sejarah)



A.   Pendahuluan
Perkembangan penulisan sejarah dalam Islam tidak dapat dipisahkan dari perkembangan budaya secara umum.[1] Puncak dari perkembangan budaya itu terjadi pada dinasti Abbasiyah, tepatnya pada abad ke-9 dan ke-10 M. Seiring dengan perkembangan budaya dan peradaban Islam itulah penulisan sejarah dalam Islam yang sudah dimulai bersamaan dengan perkembangan penulisan hadis semakin mengalami perkembangan pesat.
Mulai dari masa awal pertumbuhan historiografi Islam hingga masa munculnya sejarawan-sejarawan besar seperti Ibn Qatadah al-Dinawari (w.276/889), Al-Baladzuri (w.279/892), Al-Ya’qubi (w.284/897), Abu Hanifah al-Dinawari (w.282/895), Abu Ja’far Muhammad ibn Jarir al-Thabari (w.310/922) dan lain-lain, corak penulisan sejarah dalam karya-karya sejarah mereka, dapat dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu corak khabar, corak halwiyat (kronologi berdasarkan tahun) dan corak maudhu’iyat  (tematik).